Beranda » Tips Pemeliharaan Ayam Petelur Dengan Modal Kecil

Tips Pemeliharaan Ayam Petelur Dengan Modal Kecil

Pemeliharaan ayam petelur

Budidaya ayam petelur dapat menjadi salah satu solusi bagi Anda yang sedang membutuhkan usaha sampingan. Ada banyak keuntungan yang bisa Anda dapatkan dalam pemeliharaan ayam petelur ini. Selain telur sebagai hasil utama, Anda juga dapat menjual kembali induk ayam yang sudah tidak produktif lagi. Selain itu, kotoran ayam petelur juga bagus untuk Anda jadikan pupuk.

Potensi penghasilan usaha pemeliharaan ayam petelur adalah penghasilan harian atau mingguan. Untuk memulainya, Anda pun tidak harus memulai dengan memelihara ribuan ayam. Cukup beberapa puluh ekor saja Anda sudah dapat memulai usaha peternakan ayam petelur. Anda dapat memulainya misal dengan jumlah 100 ekor ayam petelur.

Telur ayam saat ini menjadi alternatif lauk yang dipilih oleh sebagian besar masyarakat. Itu karena harga telur yang relatif lebih terjangkau daripada daging. Hal itu menjadikan telur hasil ternak Anda tidak perlu menjual ke pengepul besar. Anda dapat menjualnya ke warung-warung sekitar tempat tinggal Anda. Itulah salah satu alasan mengapa Anda dapat memulai usaha ini dengan modal yang kecil.

Seperti usaha pada umumnya, ternak ayam petelur juga membutuhkan teknis yang benar agar berhasil dan menguntungkan. Pada kesempatan kali ini, Tani Millenial akan menyampaikan beberapa tips untuk Anda yang sedang akan memulai ternak ayam petelur. Silahkan untuk  menyimak sampai selesai.

1. Menentukan dan memilih lokasi pemeliharaan ayam petelur

Sebelum memulai usaha, terlebih dahulu Anda harus menentukan lokasi untuk memelihara ayam petelur. Pengetahuan tentang lokasi ini akan menentukan langkah Anda kedepan. Setelah memiliki pengetahuan tentang lokasi, Anda akan memiliki informasi untuk menentukan kuota jumlah ayam dan jenis kandang yang akan Anda bangun.

Lokasi kandang ayam sebaiknya memiliki jarak yang cukup dari pemukiman. Supaya nantinya bau kotoran ayam agar tidak mengganggu penduduk yang lain. Selain itu, Anda juga harus memastikan jika lokasi tersebut aman, baik dari sisi gangguan binatang pengganggu atau manusia.

Ayam petelur juga membutuhkan lokasi yang tenang dan jauh dari kebisingan. Termasuk suara gaduh yang mungkin disebabkan oleh binatang lain, seperti kucing atau ayam kampung. Kebisingan kadang membuat ayam petelur menjadi stress.

Baca Juga: 3 Cara Budidaya Ayam Kampung Yang Menguntungkan

2. Memilih bibit dan jenis ayam petelur

Ada dua jenis tipe ras ayam petelur yang biasa digunakan oleh peternak, yakni ras ayam petelur ringan dan ras ayam petelur medium. Anda dapat membedakan kedua tipe ayam ini dari bulu dan juga berat badannya. Ras ayam petelur ringan memiliki bulu yang berwarna putih serta tubuh yang ramping dan cenderung kurus. Sedangkan ayam tipe medium memiliki warna bulu coklat dan bobot yang lebih gemuk.

Anda dapat memilih tipe medium, agar setelah ayam tersebut tidak produktif, Anda dapat menjualnya sebagai ayam pedaging. Biasanya setelah ayam berumur 20 bulan, produksi telur tidak meningkat atau malah menurun, sedangkan kebutuhan pakan tetap tinggi. Pada waktu tersebut lebih baik Anda menjualnya dan mengganti dengan bibit yang baru.

Bibit ayam petelur atau DOC (Day Old Chiken) bisa Anda dapatkan dari penyedia bibit ayam petelur. Bibit biasanya dijual dalam perbedaan ketentuan umur mingguan. Anda tidak harus memelihara bibit ayam mulai dari kecil, meskipun jenis bibit yang berumur lebih muda harganya lebih murah.

Ayam petelur akan mulai bertelur pada kisaran umur 18 minggu atau sekitar 4 bulan. Jika Anda ingin lebih cepat panen, Anda dapat memilih bibit dengan usia 14-15 minggu jika bibit tersedia. Akan lebih baik jika Anda terlebih dahulu berkonsultasi dengan penyedia bibit yang Anda percaya.

Baca Juga: Budidaya Ayam Potong? Begini tipsnya Untuk Pemula

3. Menyiapkan kandang dan perlengkapan ayam petelur

Secara garis besar, ada dua jenis sistem kandang ayam petelur, yakni sistem koloni dan sistem baterai (individual). Kedua sistem tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk ternak ayam petelur ini kebanyakan peternak lebih memilih menggunakan kandang baterai.

Kandang baterai ayam petelur

Kandang baterai (individual) (sumber: Petunjuk Teknis Beternak Ras Ayam Petelur)

Dengan sistem kandang koloni, Anda kemungkinan besar akan lebih menghemat modal pembuatan kandang. Namun beberapa kekurangan sistem kandang koloni ini perlu Anda perhatikan juga. Anda mungkin akan cukup kesusahan untuk menjaga telur ayam agar tidak rusak nantinya. Kemudian dengan kandang koloni maka ada kemungkinan terjadi perebutan pakan yang membuat pertumbuhan menjadi tidak sama.

Kandang koloni

Kandang koloni bertingkat (sumber: Petunjuk Teknis Beternak Ayam Petelur)

Kekurangan dari kandang baterai adalah soal biaya pembuatan kandang yang lebih besar. Akan tetapi keamanan telur dan pakan akan lebih terjamin saat menggunakan jenis kandang ini. Anda juga dapat lebih menata ruangan jika menggunakan kandang baterai dengan membuat kandang bertingkat.

Perlengkapan lainnya adalah perlengkapan makan, minum, lampu dan tempat bertelur. Untuk kandang baterai Anda dapat menggunakan tempat makan dari pralon yang di belah 2, sedangkan untuk perlengkapan minum baiknya Anda membeli perlengkapan minum khusus yang otomatis.

Suhu dalam kandang ayam petelur juga sangat penting untuk Anda perhatikan. Suhu idealnya berkisar antara 32° C. Jika lokasi terlalu dingin maka Anda harus menambahkan lampu. Namun jika terlalu panas, Anda dapat menggunakan kipas angin untuk membuat suhu lebih ideal.

Baca Juga: 6 Jenis Ras Ayam Lokal Yang Ada Di Indonesia

4. Pakan dan minum ayam petelur

Agar ayam petelur dapat berproduksi dengan maksimal, Anda harus memberinya pakan yang kaya akan nutrisi serta minum yang cukup. Pemberian pakan sebaiknya secukupnya saja, tidak kurang dan tidak berlebih. Hal itu untuk menjaga bobot ayam petelur yang ideal. Jika terlalu gemuk maka biasanya produktivitas telurnya akan menurun, begitu pula sebaliknya.

Pakan ayam petelur dibedakan atas beberapa jenis sesuai dengan usia ayam. Menu pakan sebaiknya menyesuaikan dengan ketentuan tersebut untuk menjaga kemampuan bertelurnya. Jika Anda menggunakan jenis pakan yang tidak pas, kemungkinan kemampuan bertelurnya juga menjadi tidak baik. Berikut panduan jenis pakan ayam petelur:

  1. Starter, usia  0-6 minggu, kandungan protein 20,0% energi 1325-1375 kcal/lb
  2. Grower, usia 6-8 minggu, kandungan protein 18,0% energi 1350-1400 kcal/lb
  3. Developer, usia 8-15 minggu, kandungan protein 16,0% energi 1375-1425 kcal/lb
  4. Pre layer, usia 15-18 minggu, kandungan protein 14,5% energi 1350-1400 kcal/lb
  5. Layer, selama ayam bertelur, kandungan protein 15,0% energi 1300-1450 kcal/lb

Pemberian air minum juga harus cukup. Jika Anda menggunakan perlengkapan minum otomatis, maka Anda harus selalu mengamati stok ketersediaan air. Penggunaan perlengkapan otomatis akan lebih menghemat waktu dan juga menjamin ayam mendapatkan jumlah air minum yang sama sesuai kebutuhannya.

Baca Juga: Cara Budidaya Ikan Lele Di Ember Bersama Kangkung

5. Vaksinasi ayam petelur

Vaksinasi merupakan hal yang utama untuk menjaga ayam petelur agar terhindar dari penyakit karena virus. Untuk vaksinasi ini sebaiknya Anda berkonsultasi dengan penyedia bibit mengenai vaksin yang mereka gunakan. Jika Anda membeli bibit ketika telah dewasa, biasanya ayam telah divaksinasi terlebih dahulu.

Vaksin terbagi menjadi dua macam, yakni vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif adalah vaksin yang mengandung virus hidup. Kekebalan yang timbul akan lebih lama daripada penggunaan vaksin inaktif/pasif. Sedangkan vaksin inaktif adalah vaksin yang virusnya telah dilemahkan/dimatikan. Jangka waktu kekebalannya lebih pendek, akan tetapi dapat Anda gunakan untuk ayam yang sedang sakit.

Beberapa macam vaksin untuk ayam petelur antara lain vaksin NCD virus Lasota, NCD virus Komarov, NCD HB-1, Cacar/pox (virus defose), dan vaksin anti RCD (vaksin Lyomarex untuk marek). Sedangkan persyaratan untuk melakukan vaksinasi adalah:

  1. Ayam harus sehat
  2. Dosis harus tepat
  3. Alat yang Anda gunakan harus steril.

Baca Juga: Cara Sukses Budidaya Ikan Mujair Di Kolam Terpal

6. Pengamatan dan pengendalian penyakit

Pengendalian penyakit merupakan salah satu faktor penting keberhasilan dalam pemeliharaan ayam petelur. Berikut uraian penyakit ayam petelur beserta cara pengendaliannya.

  1. Foel Typhoid. Menyerang pada ayam muda/remaja. Penyebabnya adalah Salmonella galinarum. Gejalanya ayam mengeluarkan kotoran berwarna hijau kekuningan. Pengendaliannya dengan antibiotika/preparat sulfa..
  2. Pilek ayam (Coryza). Penyakit ini menyerang pada ayam semua umur. Penyebabnya adalah makhluk intermediet antara virus dan bakteri. Gejalanya ayam menunjukan tanda-tanda seperti orang pilek. Pengendaliannya dengan memberikan antibiotika/preparat sulfa.
  3. CRD. Penyakit ini merupakan penyakit yang populer di Indonesia. Menyerang pada anak ayam dan ayam remaja. Pengendaliannya dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).
  4. Infeksi Bronkitis. Penyakit ini menyerang ayam pada semua umur dan dapat menurunkan produktivitas telur. Pada ayam dewasa tingkat kematian ayam sebenarnya rendah, akan tetapi pada ayam remaja dapat mencapai 40%. Ayam petelur yang terserang akan menjadi lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur tidak normal. Penyakit ini belum ada obatnya, pengendaliannya adalah dengan vaksinasi.
  5. Cacar ayam (Fowl pox). Gejala penyakit ini tubuh ayam yang terserang bagian jengger akan ada bercak-bercak cacar. Penyebabnya virus borreliota avium. Cara pengendaliannya dengan vaksinasi.
  6. Cacing. Penyakit karena cacing biasanya menyerang pada kandang yang kebersihannya tidak terpelihara dengan baik. Cirinya adalah tubuh ayam kurus, bulu kusam, produksi telur merosot dan ayam kurang aktif. Pengendaliannya adalah dengan menjaga kebersihan kandang dengan lebih baik.
  7. Kutu. Di luar, kutu yang menyerang ayam tidak terlihat, akan tetapi bila Anda menyibak bulunya baru akan terlihat. Tanda fisik yang dapat Anda amati adalah ayam yang terserang akan terlihat gelisah. Kutu terdapat pada kandang yang tidak terkena sinar matahari langsung. Oleh karena itu akan lebih baik jika sisi samping kandang mengarah dari timur ke barat. Pengendaliannya adalah dengan menggunakan penyemprot kutu pada malam hari saat ayam tidak aktif.
  8. Mareks. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian hingga 60%. Biasanya menyerang pada saat ayam berumur muda antara 1-3 bulan. Penyebabnya adalah virus mareks. Tanda-tandanya adalah ayam akan pincang, lumpuh pada sayap atau leher, kadang matanya menjadi buta, atau terjadi kelumpuhan pada bagian kaki. Pengendalian penyakit ini adalah dengan vaksinasi.

Baca Juga: Cara Ternak Ikan Nila Di Kolam Terpal Untuk Pemula

7. Panen dan pasca panen

Hasil utama ayam petelur berupa telur yang dihasilkan oleh ayam. Dalam satu hari sebaiknya memeriksa dan mengambil telur 3 kali. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kerusakan pada telur. Pengambilan pertama pada jam 10.00-11.00, yang kedua 13.00-14.00 dan jam 15.00-16.00 untuk yang ketiga kalinya.

Hasil tambahan yang kedua adalah kotoran dari ayam petelur tersebut. Anda dapat menjual atau menggunakan kotoran tersebut sebagai pupuk untuk tanaman. Hasil tambahan lain adalah penjualan ayam petelur yang tidak lagi produktif, berkisar antara umur 20 bulan.

Baca Juga: Budidaya Ikan Gurame Di Kolam Kecil, Begini Caranya!

Itulah tips-tips untuk melakukan pemeliharaan ayam petelur. Melihat potensi yang ada, usaha ini tentunya dapat Anda coba, meski hanya sebagai sampingan. Semoga memberi manfaat dan selamat mencoba dan semoga berhasil.

Referensi artikel:

  1. TTG Budidaya peternakan. Deputi menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (http://www.ristek.go.id).
  2. Petunjuk teknis Beternak Ras Ayam Petelur, Y.Suci Pramudyati & Agung Prabowo. GTZ MRPP & Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatra Selatan, 2009.
  3. Pentingnya Keseragaman Untuk Pullet Berkualitas, http://www.medion.co.id/
  4. Puncak Produksi Telur Tidak Tercapai, Apa Masalahnya?, http://www.medion.co.id/
  5. Siklus Hidup Ayam Petelur, https://ternakpedia.com/

Tinggalkan Balasan