Beranda » Sistem Tanam Hidroponik Sudah Ada Sejak Dulu Kala, Begini Sejarahnya

Sistem Tanam Hidroponik Sudah Ada Sejak Dulu Kala, Begini Sejarahnya

Sistem tanam hidroponik

Jika Anda berfikir sistem tanam hidroponik lahir pada zaman modern, itu sedikit tidak tepat. Mungkin, sistem tanam tanpa tanah ini memang baru populer pada beberapa dekade terakhir. Namun sebenarnya cara tanam ini telah ada semenjak beribu-ribu tahun yang lalu.

Pengertian sistem tanam hidroponik adalah sistem budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, akan tetapi berfokus dengan penggunaan air sebagai penyuplai nutrisi. Meskipun berfokus dengan penggunaan air, namun jumlah penggunaan air dalam sistem hidroponik ini lebih irit daripada sistem konvensional.

Di Indonesia, sistem hidroponik dipopulerkan oleh seorang tokoh yang cukup populer, yakni Bob Sadino (baca sumber). Pebisnis yang memiliki ciri khas dengan celana pendeknya ini merupakan orang pertama yang menjadi pengusaha sayur sistem hidroponik. Dan saat ini hidroponik telah berkembang di berbagai tempat di Indonesia.

Baca Juga: Mengintip Teknologi Pertanian Vertikal Di Negara Maju

Sejarah sistem tanam hidroponik di dunia

Dalam sejarahnya, dunia mengenal hidroponik melalui uji coba oleh William Frederick Gericke dari University of Colifornia, Berkeley, CA. Pada awal tahun 1930, ia mempelajari sistem menanam tanaman menggunakan air yang mengandung nutrisi dan mineral tanpa olah tanah. Dalam uji coba tersebut, WF Gericke berhasil menumbuhkan tanaman tomat setinggi 25 kaki.

Pada awalnya Gericke memberi nama “akuakultur” untuk uji cobanya tersebut. Namun setelah ia mengertahui jika nama tersebut telah digunakan untuk pembudidayaan akuatik, nama tersebut kemudian berubah menjadi hidroponik.

Nama “hidroponik” merupakan rekomendasi dari WA Setchell pada tahun 1937. Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani Hydro (“air”) dan Ponos (“tenaga kerja”). Secara harfiah memiliki arti “kerja air”.

Meskipun telah berhasil dalam uji cobanya, namun masyarakat dan Universitas masih meragukan penemuannya tersebut. Kemudian Universitas menugaskan dua mahasiswa lain untuk menyelidiki klaim Gericke. Lalu kedua mahasiswa tersebut melaporkan dalam buletin pertanian pada tahun 1938. (Link publikasi tersebut).

Dalam publikasi tersebut kedua mahasiswa itu mengkonfirmasi kebenaran klaim daro  Gerike. Akan tetapi mereka menyatakan jika sistem tanam dengan menggunakan hidroponik tersebut tidak lebih baik daripada menggunakan tanah.

Kemudian praktik pertanian hidroponik tersebut meluas, meski pada awalnya praktik tersebut hanya dari kalangan militer. Setelah Perang Dunia II, tentara AS menanam 22 hektar di Chofu, Jepang.

Pada tahun 1950, sistem tanam hidroponik telah meluas ke negara lain. Negara-negara tersebut antara lain Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, Swedia, Uni Soviet dan Israel.

Baca Juga: Mahasiswa AS Kembangan Tanaman Untuk Planet Mars

Praktik Hidroponik telah ada sejak ribuan tahun yang lalu

Melihat fakta diatas, memang tak dapat kita pungkiri peran WF Gericke dalam pengembangan sistem hidroponik. Akan tetapi, ternyata sistem hidroponik ini telah ada semenjak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Sejarah mencatat keberadaan taman gantung Babilonia yang begitu terkenal yang berdiri sekitar abad 600 SM. Tanam tersebut rupanya juga menggunakan sistem tanam hidroponik.

Taman gantung Babilonia merupakan bangunan sepanjang Sungai Elfrat di Babilonia, sebelah Selatan Bagdad modern di Irak. Konon, taman tersebut menggunakan sistem pengairan berantai untuk menyiram tanaman tersebut. Air dari sungai mengalir melalui sistem rantai dengan mengalirkan melalui tangga atau pendaratan taman.

Selain taman gantung Babilonia, sejarah juga mencatat adanya pertanian terapung di sekitar pulau Tenochtitlan di Meksiko. Pertanian tersebut merupakan milik suku Aztec pada abad ke-10 dan ke-11.

Sedangkan pada akhir abad ke-13, penjelajah Marco Polo mencatat jika dalam perjalanannya ia melihat taman terapung di Tiongkok.

Baca Juga : Inilah Pertanian Modern Dalam Ruangan Terbesar Di Dunia

Perkembangan penelitian sistem hidroponik

Penelitian mengenai sistem hidroponik ini rupanya tidak hanya terjadi pada saat WF Gericke melakukan uji coba saja. Akan tetapi ada banyak ilmuan yang sebelumnya juga membuat penelitian mengenai pertumbuhan tanaman yang serupa.

Sebelum abad ke-16, Jan Van Helmont dari Belgia telah bereksperimen dan menemukan jika tanaman memperoleh nutrisi dari air. Namun ia gagal menemukan jika tumbuhan membutuhkan karbondioksida dan oksigen dari udara.

John Woodward kemudian mengikuti studi tersebut dengan menggunakan kultur air pada tahun 1699. Ia membuat kesimpulan jika zat nutrisi tanaman pada air berasal dari tanah, bukan dari air sendiri.

Sejumlah penelitian lain kemudian berkembang. Pada tahun 1804, De Saussure mengusulkan jika unsur kimiawi tumbuhan berasal dari penyerapan unsur dari air, tanah dan udara.

Boussignault, seorang ahli kimia Perancis kemudian memferivikasi pendapat De Saussure pada tahun 1851. Ia kemudian melakukan uji coba dengan menanam dengan media buatan yang tidak larut air dan tanpa tanah. Bossignaut kemudian menemukan jika tanaman membutuhkan air dan mendapatkan hidrogen darinya. Tumbuhan terdiri dari Nitrogen dan unsur mineral lainnya.

Pada tahun 1860 dan 1861 dua ahli botani Jerman menemukan formula standar pertama untuk larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air. Mereka adalah Julius von Sachs dan Wilhelm Knop. Larutan tersebut merupakan formula paling penting agar dapat menanam tanaman. Formula tersebut sekarang dikenal dengan nama “makroelemen” atau “makronutrien”.

Latar belakang penemuan WF Gericke adalah banyaknya praktik rumah kaca yang muncul pada sekitar tahun 1925. Pada waktu itu para peneliti begitu peduli dengan metode budaya tanah dengan struktur tanah, kesuburan dan hama.

Baca Juga: Super Canggih! Inilah 5 Teknologi Pertanian Jepang

Manfaat perkembangan sistem hidroponik

Kemunculan sistem hidroponik ini tentu membawa dampak dan pengaruh yang besar bagi dunia pertanian. Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dunia dan berkurangnya lahan pertanian, sistem hidroponik menjadi salah satu solusi permasalahan itu.

Dengan adanya sistem hidroponik, maka daerah perkotaan yang sempit dan dengan tanah yang tidak subur. Penerapan sistem hidroponik ini juga sangat bermanfaat untuk daerah-daerah yang kurang subur, gersang, atau kekurangan air.

Sistem ini juga menjawab tantangan dunia pertanian konvensional yang membutuhkan banyak air untuk hidup. Meskipun pada dasarnya sistem ini memanfaatkan air sebagai media utama, akan tetapi penggunaan air lebih irit dibandingkan model konvensional.

Selain hal di atas, ada lebih banyak keuntungan dan manfaat yang didapat dengan penerapan sistem hidroponik ini. Dengan kata lain, sistem tanam hidroponik ini merupakan sistem yang akan menjawab berbagai tantangan dunia pertanian di masa yang akan datang.

Sumber referensi:

  1. Buku Petunjuk Teknis Budidaya Sayuran Hidroponik (Bertanam tanpa media tanah). Sri Swastika, Ade Yulfida, & Yoga Sumitro. 2017
  2. The History of Hydroponics-The Past, The Present, and The Future. www.trees.com
  3. Hanging Gardens of Babylon. www.worldhistory.org

Tinggalkan Balasan