Pranoto Mongso Sebagai Penanda Pertanian Suku Jawa

pranoto mongso
Rekomendasikan Artikel

Jika Anda merupakan bagian dari suku jawa, mungkin istilah ini tidak asing lagi. Meskipun pada era zaman modern ini, tak banyak lagi yang membicarakan perihal pranoto mongso. Akan tetapi para petani, terutama petani zaman dahulu sering menggunakan pranoto mongso sebagai penanda pertanian. Lantas, apa sebenarnya pranoto mongso ini? Pentingkah untuk dunia pertanian suku jawa?

Apa itu pranoto mongso?

Pranoto mongso adalah semacam kalender untuk menentukan musim menurut pemahaman suku jawa. Para petani memanfaatkan penanda tersebut untuk menentukan pekerjaan. Pemahaman semacam ini dikenal juga oleh suku lain, seperti suku sunda dan suku bali. Namun mungkin saja berbeda-beda istilah dan namanya.

Dalam sejarahnya, Sri Paduka Mangku Negara IV pada tahun 1855 M mulai mengenalkan pranoto mongso ini. Beliau membagi pranoto mongso 12 musim dengan jangka waktu yang bervariasi setiap tahun. Pembagian musim tersebut berkaitan erat dengan perilaku hewan, perkembangan tumbuhan, dan kultur agraris lainnya.

Hingga saat ini, para petani jawa masih banyak yang menggunakan pranoto mongso untuk kegiatan bertaninya. Pembagian pranoto mongso tersebut terdapat dalam kalender jawa, atau lebih dikenal dengan nama penanggalan jawa.

Pembagian musim dalam pranoto mongso yang menjadi penanda pertanian

Seperti penjelasan pada awal tadi, dalam satu satu tahun terdapat 12 musim. Penamaan musim tersebut berdasarkan nomor dalam istilah bahasa jawa. Setiap musim pranoto mongso menjadi penanda pertanian berbagai jenis pekerjaan yang berbeda. Berikut Smart-Tani akan membahas 12 musim yang ada dalam penataan musim jawa tersebut:

1. Mongso Koso/Suro (Pranoto mongso pertama)

Musim ini terjadi pada 22 Juni – 1 Agustus atau selama 41 hari. Pada musim ini kondisi alam biasanya kering. Sinar matahari 76 %, kelembaban udara 60,1 %, curah hujan 67,2 mm, dan suhu udara 27,4 derajat celsius. Peristiwa yang terjadi adalah belalang masuk ke tanah dan daun-daun berjatuhan.

Pada mangsa koso ini biasanya petani sedang membersihkan jerami disawah. Sedangkan tanaman yang bisa ditanam adalah palawija dan umbi-umbian. Pada musim ini dipercayai ada sesuatu yang hilang dalam alam, walau cuaca terang.

2. Mongso Karo (Pranoto mongso kedua)

Musim kedua terjadi selama 23 hari, mulai 2 Agustus – 24 Agustus. Suku jawa menyebutnya dengan mongso karo. Pada musim ini hawa menjadi panas, curah hujan 32,2 mm. Manusia mulai resah karena kondisi kering dan panas, bumi seperti merekah, memasuki musim paceklik.

Pohon randu dan mangga mulai bersemi pada musim ini. Para petani melakukan pengairan pada lahan yang kering. Sedangkan untuk tanaman yang bisa ditanam adalah palawija.

3. Mongso Katelu (Pranoto mongso ketiga)

Mongso katelu/ketigo atau musim ketiga berumur 24 hari dari 25 Agustus – 17 September. Kondisi alam hampir mirip dengan musim sebelumnya. Hanya curah hujan sedikit meningkat menjadi 42,2 mm. Kondisi sumur mulai kering dan angin berdebu. Manusia hanya bisa pasrah sebab tanah tak bisa di tanami karena kering dan kekurangan air.

Pada musim ini berbagai jenis bambu yang mulai tumbuh. Para petani sedang melakukan persiapan untuk memanen palawija.

4. Mongso Kapat (Pranoto mongso ke-empat)

Musim ke-empat atau mongso kapat mulai pada 18 September – 12 Oktober, berumur 25 hari. Pada musim ini kemarau mulai berakhir, sinar matahari 72 %, kelembaban udara 26,7 derajat celsius.

Tanda di alam yang dapat kita lihat adalah berbuahnya pohon kapuk dan bertelurnya burung pipit dan manyar. Para petani sedang memulai menggarap lahan untuk ditanami padi gogo.

5. Mongso Kalimo (Pranoto mongso ke-lima)

Mulai pada 13 Oktober – 8 November musim beralih ke mongso kalimo atau musim ke-lima. Musim ini berumur 27 hari. Hujan mulai turun dengan curah hujan 151,1 mm. Pohon asam mulai tumbuh daun muda dan ulat-ulat mulai keluar.

Para petani mulai memperbaiki saluran air dan mulai menebar benih padi.

6. Mongso Kanem (Pranoto mongso ke-enam)

Mongso kanem berlangsung selama 43 hari, mulai 9 November – 21 Desember. Pada musim ini curah hujan menjadi semakin tinggi menjadi 402,2 mm. Sedangkan kondisi alam mulai menghijau karena tumbuhan sudah banyak yang bertunas.

Peristiwa yang terjadi pada musim ini adalah banyaknya tanaman buah yang mulai berbuah. Sedangkan burung blibis mulai terlihat di tempat-tempat berair. Para petani sudah mulai menebar bibit padi di pembenihan.

7. Mangsa Kapitu (Pranoto mongso ke-tujuh)

Musim ke tujuh yang disebut mongso kapitu ini merupakan musim datangnya banyak bencana. Curah hujan yang semakin tinggi menjadi 501,4 mm. Pertanda lainnya adalah datangnya banjir, angin kencang, dan datangnya penyakit. Musim ini terjadi pada 22 Desember – 2 Februari atau selama 43 hari.

Para petani sedang merawat padi di sawah. Pada musim ini para petani harus waspada terhadap serangan hama dan penyakit.

8. Mangsa Kawolu (Pranoto mongso ke-delapan)

Mongso Kawolu atau musim ke delapan berumur 26 hari, mulai 3 Februari – 28 Februari. Curah hujan mulai turun menjadi 371,8 mm, meski masih banyak terjadi mendung dan kilat.

Uret mulai berkembang pada musim ini. Sedangkan para petani sedang sibuk menjaga tanaman padi dari serangan hama ulat dan larva lainnya.

9. Mangsa Kasongo (Pranoto mongso ke-sembilan)

Mongso kasongo atau musim ke sembilan terjadi selama 25 hari, mulai 1 Maret – 25 Maret. Curah hujan kembali menurun menjadi 252,5 mm. Orang jawa sering menyebutnya sebagai musim mareng.

Pada musim ini jangkrik mulai muncul dan cengkerek mulai berbunyi. Sedangkan para petani masih melakukan perawatan padi yang menjelang panen.

10. Mongso Kasepuluh/Kasedoso (Pranoto mongso ke-sepuluh)

Mangsa Kasepuluh berumur 24 hari, mulai 26 Maret – 18 April. Pada musim ini curah hujan semakin menurun. Sinar matahari 60 %, kelembaban udara 74 %, curah hujan 181,6 mm dan suhu udara 27,8 derajat celsius.

Pertanda yang terjadi adalah burung-burung yang mulai membuat sarang. Beberapa jenis burung kecil mulai menetas, banyak binatang bunting. Manusia sering dalam kondisi yang kurang baik karena pengaruh kondisi alam. Para petani sudah mulai memanen padi yang mulai menguning.

11. Mongso Dhesta (Pranoto mongso ke-sebelas)

Mangsa dhesta atau musim kesebelas terjadi selama 23 hari. Musim ini di mulai pada 19 April – 11 Mei. Curah hujan terus menurun menjadi 129,1 mm.

Aliran air sungai mulai jernih karena tidak membawa erosi tanah. Sedangkan burung-burung mulai mengeram dan jenis burung kecil telah banyak yang menetas. Para petani sedang memasuki masa panen padi.

12. Mangsa Sada (Pranoto mongso ke-dua belas)

Mongso sada atau musim ke dua belas, berlangsung selama 41 hari, mulai pada 12 Mei – 21 Juni. Pada musim ini curah hujan sedikit naik menjadi 149,2 mm dan suhu udara mulai dingin.</p>

Air sungai mulai menyusut karena menjelang musim kemarau. Para petani sedang menjemur gabah kemudian menyimpannya di lumbung.

Cara menggunakan pranoto mongso sebagai penanda pertanian

Meski pranoto mongso lahir tengah-tengah suku jawa yang kental dengan sesuatu yang mistis, akan tetapi tidak untuk penanda pertanian. Anda tidak perlu upacara khusus untuk menggunakan petunjuk dalam pranoto mongso ini. Dan yang perlu Anda ketahui bahwa pranoto mongso tidak berhubungan dengan dunia mistis. Ilmu pertanian ini merupakan ilmu terapan berdasarkan pengamatan dan pengalaman bertahun-tahun.

Untuk menggunakannya Anda cukup melihat petunjuk dalam penanggalan jawa atau sekarang dapat menggunakan beberapa aplikasi di handphone. Jika masih kurang puas, maka anda dapat menggunakan buku jawa (primbon jawa).

Namun, meski pranoto mongso ini telah diterapkan bertahun-tahun, Anda perlu juga untuk melihat kondisi cuaca dan iklim. Sebab, dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini, ada beberapa petanda yang kemudian menjadi tidak tepat. Jadi, amati juga cuaca dan iklim yang terjadi.

Apa saja manfaatnya menggunakan pranoto mongso sebagai penanda pertanian?

Ada banyak manfaat yang akan Anda peroleh ketika menggunakan pranoto mongso jawa ini. Selain untuk melestarikan kebudayaan yang telah turun temurun, Anda dapat membuat perencanaan yang lebih baik. Sebagai contoh untuk menanam padi, Anda perlu membuat jadwal kegiatan bertani Anda. Oleh karena itu, pranoto mongso menjadi rujukan yang tepat. Anda dapat menentukan kapan memulai pembibitan, pengolahan lahan, perawatan, dan sebagainya.

Kesimpulanya, apakah tepat pranoto mongso sebagai penanda pertanian?

Saat ini tidak banyak petunjuk yang ada untuk melakukan budidaya pertanian. Bahkan buku-buku modern pun masih kurang dalam memberikan petunjuk yang jelas mengenai kegiatan yang tepat dalam pertanian. Oleh karena itu, pranoto mongso masih menjadi rujukan yang pas bagi para petani untuk bercocok tanam.


Rekomendasikan Artikel

1 komentar untuk “Pranoto Mongso Sebagai Penanda Pertanian Suku Jawa”

  1. Pingback: China Ciptakan Bibit Padi Hibrida Dengan Hasil 22 Ton/Hektar - Smart Tani

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *