Beranda » Mongso Kapitu, Kapan Dan Apa Yang Terjadi?

Mongso Kapitu, Kapan Dan Apa Yang Terjadi?

mongso kapitu

Pranoto mongso merupakan metode pembagian musim menurut suku jawa. Para petani jawa menggunakan metode ini sebagai penanda untuk bercocok tanam. Sedangkan dalam 1 tahun terdapat 12 musim atau mongso. Dan salah satu pembagian musim tersebut adalah mongso kapitu, atau musim ke tujuh.Pembagian musim tersebut berdasarkan atas kondisi alam, kondisi cuaca, perilaku binatang, atau kejadian khusus tertentu.

Mongso kapitu atau musim ketujuh ini merupakan bagian tak terpisahkan dari metode pembagian musim tersebut. Sama dengan pembagian yang lain, pada musim ini juga terdapat berbagai tanda atau kejadian alam tertentu. Dan para petani menggunakan tanda tersebut untuk melakukan kegiatan pertanian.

Musim ke tujuh dalam pranoto mongso ini terjadi pada pertengahan musim penghujan. Sedangkan usia dari musim ke tujuh ini 43 hari, mulai dari 22 Desember hingga 2 Februari. Dan pada setiap musim tersebut, hujan telah mencapai puncaknya. Banyak terjadi hujan deras yang kemudian menyebabkan bencana, baik banjir maupun tanah longsor. Selain itu, pada musim ini banyak penyakit yang mulai datang. Hal tersebut karena kondisi cuaca dan beberapa makhluk hidup yang menyebabkan penyakit seperti nyamuk.

Baca Juga : Peran Pranoto Mongso Pada Pertanian Berkelanjutan

Tanaman padi sedang dalam perawatan pada mongso kapitu

Pada mongso kalimo penanaman padi sudah mulai dari fase pembibitan. Mongso kalimo tersebut terjadi pada 13 Oktober – 8 November, atau pada awal-awal musim penghujan. Kemudian pada mongso tersebut para petani padi sudah mulai menebar benih pada lahan pembibitan. Akan tetapi jika hujan belum mencukupi maka para petani hanya memperbaiki irigasi sawah. Kemudian mereka akan menyiapkan lahan untuk penebaran benih padi tersebut.

Pembibitan padi masih berlanjut pada musim berikutnya, mongso kanem. Pada musim keenam ini hujan sudah mulai meninggi. Kemudian pada mongso ini para petani harus telah menebar benih padi. Dan jika bibit padi telah siap, maka bisa melakukan penanaman padi. Oleh karena itu, pada musim ini para petani juga mengerjakan lahan sawahnya untuk menanam padi.

Kemudian pada musim ke tujuh para petani telah melakukan perawatan pada tanaman padi mereka. Pemupukan, penyiangan dan beberapa pekerjaan lain mereka lakukan. Selain itu, pada mongso ini para petani juga harus mewaspadai tanamannya dari serangan hama dan penyakit.

Baca Juga : Mongso Kasongo 2021, Inilah Kejadian Unik Yang Terjadi

Dari hujan deras sampai kucing kawin terjadi pada musim ketujuh

Seperti penjelasan pada awal tadi, musim ini terjadi pada pertengahan musim penghujan. Artinya, curah hujan meningkat dari musim berikutnya. Jika pada mongso kanem curah hujan 402,2 mm, maka pada musim ketujuh curah hujan menjadi 501,4 mm. Hal tersebut kemudian menjadikan musim ini timbul berbagai bencana alam. Banjir dan tanah longsor sering terjadi pada musim ini.

Kejadian bencana tersebut akan berkurang, seandainya manusia telah menggunakan petunjuk lain pada pranoto mongso. Sebab pada mongso kalimo, manusia seharusnya telah memperbaiki saluran air untuk menyambut musim hujan. Akan tetapi karena kelalaian maka banyak saluran air yang saat ini tidak diperbaiki. Akibatnya ketika curah hujan meninggi banyak terjadi luapan air atau pergerakan tanah di lereng pegunungan.

Kedatangan penyakit tentu saja masuk akal pada musim ini. Sebagai contoh mudah adalah nyamuk yang perkembangbiakannya membutuhkan air untuk bertelur. Karena tingginya curah hujan maka ada kemungkinan banyaknya air yang tergenang. Hal tersebut tentu menyebabkan berbagai jenis serangga sumber penyakit akan berkembang. Selain datangnya penyakit, pada musim ketujuh ini kucing-kucing akan mulai mencari pasangan. Tanda ini tentu saja mudah Anda lihat jika pada daerah sekitar Anda terdapat banyak kucing.

Baca Juga : Pranoto Mongso: Penangalan Jawa Untuk Pertanian

Sumber Gambar : marconews.com

 

Tinggalkan Balasan