Beranda » Mengintip Tambak Ikan Berlantai Delapan Di Singapura

Mengintip Tambak Ikan Berlantai Delapan Di Singapura

Baru-baru ini sebuah perusahaan di Singapura mengembangkan tambak ikan di atas gedung. Perusahaan tersebut adalah Apollo Aquaculture Group. Kemudian peternakan tersebut merupakan peternakan ikan vertikal terbesar di dunia. Hal tersebut menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di Singapura.

Singapura memang negara kecil yang luas negaranya hanya setara dengan kota di Indonesia. Namun negara itu menjadi kekuatan ekonomi besar di Asia maupun dunia. Dengan memanfaatkan lokasi negara mereka yang strategis, mereka mampu mendongkrak perekonomian dalam sektor perdagangan dan industri.

Meski tak banyak memiliki lahan pertanian, mereka tetap terus berupaya untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri. Meski menjadi hal yang mustahil untuk berswasembada, namun mereka berupaya untuk mengurangi impor bahan pangan. Maka dari itu mereka mengembangkan teknologi pertanian dan peternakan berkelanjutan. Dan salah satu yang kemudian muncul adalah tambak ikan di gedung berlantai 8 milik Apollo Aquaculture Group tersebut.

Dilansir dari laman magazine.com, tambak ikan berteknologi mutakhir tersebut akan menghasilkan hingga 3.000 ton kerapu hibrida, ikan trout, dan udang setiap tahunnya. Dan setiap lantainya memiliki dua buah tangki seluas 135 meter persegi untuk menyuplai air laut. Selain itu juga terdapat sistem untuk menyaring, memurnikan, memantau dan mensirkulasikan ulang air tambak. Kemudian, setiap tambak hanya perlu mengganti air sebesar 5% karena air tidak terkontaminasi oleh limbah ikan.Pertambakan tersebut terletak di Neo Tiew Cresent di Lim Chu Kang.

Sistem pertambakan yang lebih efektif

Juru bicara Crono Lee mengungkapkan jika peternakan ini memiliki efisiensi enam kali lipat dari peternakan mapan lainnya di Asia Tenggara. Lebih lanjut Lee menjelaskan, bahwa kondisi di negaranya yang susah untuk mendapatkan tanah untuk membangun tambak, maka mereka memutuskan untuk membangunnya secara vertikal.

Dengan penggunaan teknologi sirkulasi air tersebut, juga mampu menghemat dalam penggunaan air. Selain itu juga akan mengurangi ketergantungan kepada tenaga kerja. Dan yang paling penting, penggunaan sistem ini telah mengurangi kematian bibit hingga 20-30%.

Pemain lama, dari penyedia ikan hias hingga tambak ikan

tambak ikan vertikal

Sumber: sqfeed.com

Sedangkan Apollo Aquaculture pun bukan sebuah perusahaan baru dalam berbisnis ikan. Perusahaan ini berdiri semenjak tahun 1969. Dan pada tahun 1970 mereka mulai membudidayakan ikan hias. Dan mulai pada tahun 2009 ketika Eric Ng mengambil alih perusahaan, mereka mulai mengadopsi metode dari Jerman, Jepang dan Israel untuk diversifikasi ikan laut menjadi makanan.

Perusahaan tersebut mulai pada tahun 2017 telah mampu menghasilkan 300 hingga 400 ton ikan kerapu dan trout dalam 1 tahun. Dengan jumlah tersebut, mereka menjadi penyetok ikan terbesar kedua di Lim Chu Kang dan Ketiga di Sungei Tengah. Dan dengan pembangunan tambak vertikal ini mereka menargetkan untuk menghasilkan 2000 ton ikan pada akhir tahun nanti.

Tambak ikan ini sejalan dengan program pemerintah

Proyek tersebut rupanya sejalan dengan rencana pemerintah Singapura. Negara ini berupaya untuk mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri sebesar 30 persen pada tahun 2030 nanti. Sedangkan saat ini, mereka baru mampu memenuhi kebutuhan tersebut sebesar 9% saja.

Dengan kondisi terbatasnya lahan yang bisa digunakan di Singapura, negara tersebut mengembangkan berbagai inovasi baru. Berbagai sektor baik swasta maupun negara kemudian berlomba-lomba untuk mencetuskan ide dan gagasan baru. Kemudian, pemerintah Singapura pun mendukung keberadaan tambak vertikal ini dengan berencana untuk melakukan riset-reset pengembangan.

Bisakah kita contoh tambak ikan itu?

Melihat apa yang diterapkan di Singapura tersebut memang terlihat menarik. Namun, kita tidak perlu membangun hal serupa. Dengan melihat kondisi lahan yang masih luas, tentunya tidak diperlukan untuk membangun sarana tambak vertikal. Yang kita perlukan adalah bagaimana memaksimalkan segala potensi yang ada. Kemudian mengadopsi teknologi yang cocok untuk kita gunakan.

Dan kemudian yang paling pas untuk di contoh adalah canangan program ketahanan pangan Singapura tersebut. Jika negara sekecil itu berkeinginan kuat untuk mampu menyediakan sumber pangan mandiri, mengapa kita tidak. Semestinya kita dengan kondisi lahan yang masih luas berani mencanangkan untuk mampu menyediakan pangan 80% hingga 100%.

Baca juga: 6 Negara Penghasil Beras Terbanyak Dunia

Tinggalkan Balasan