Beranda » Mengintip Bibit Padi Hibrida Dengan Hasil 22 Ton/Hektar Di China

Mengintip Bibit Padi Hibrida Dengan Hasil 22 Ton/Hektar Di China

Bibit padi hibrida

Sebagai negara penghasil padi terbesar dunia, China terus berinovasi dengan teknologi untuk meningkatkan hasil panen padi. Padahal, saat ini hasil panen padi mereka merupakan yang paling tinggi di Asia dengan rata-rata 6,5 ton/ha. Pada bulan Oktober 2020, mereka mengumumkan hasil uji coba bibit padi hibrida oleh Pusat Penelitian Padi Hibrida Hunan di Changsha. Bibit padi hibrida tersebut merupakan bibit generasi ketiga yang kemudian dikatakan memperoleh hasil sekitar 22 ton/hektar.

Dengan penemuan tersebut, negara ini kemudian memecahkan rekor dunia dengan panen padi terbanyak di dunia. Ilmuwan di balik penemuan tersebut adalah Yuan Longping yang merupakan seorang ahli ahli agronomi yang mendapat julukan sebagai “bapak padi hibrida”. Ia mengungkapkan bahwa hasil padi tersebut mampu memberi makan 5 orang per mu (667 meter persegi) dalam setahun (Baca: Beritanya).

Meskipun telah menjadi penghasil padi terbesar di dunia, namun China tetap getol dalam meningkatkan hasil panen padi mereka. Sebab, mereka sadar meski hasil panen padi mereka terbesar, namun jumlah konsumsi mereka juga besar. Mereka harus menjamin penduduknya yang kini mencapai 1,4 miliyar tersebut agar tercukupi kebutuhan pangannya.

Baca Juga: 13 Langkah Budidaya Padi Yang Menjadi Kunci Sukses

Pertanian ramah lingkungan

Pertanian ramah lingkungan

Sumber gambar: chinadialogue.net

Langkah mereka dalam pengembangan pertanian pun tidak hanya bertumpu kepada perolehan hasil panen semata. Tiongkok juga sangat memperhatikan keberlanjutan dari pertanian mereka. Mereka juga membuat program jangka panjang pengurangan penggunaan pupuk kimia, pengolahan limbah pertanian, dan kemudian meningkatkan kemampuan tanah untuk menyerap karbon.

Seperti yang diberitakan oleh chinadialogue.netsejak tahun 2005, pemerintah China telah mengalokasikan dana sebesar 8 miliar yuan (US $ 1,2 miliar). Program tersebut berupa pengujian tanah dan pembuatan formula pupuk yang tepat berdasarkan kebutuhan tanaman. Dan program ini telah berdampak positif terhadap 200 juta petani yang mengerjakan 100 juta hektar lahan.

Baca Juga: Cara Membuat Pupuk Mol Sayuran Untuk Perangsang Malai Padi

Penggunaan robot tanpa awak

Robot pertanian

Sumber gambar: thomasnet.com

Pemanfaatan teknologi terkini juga menjadi bagian yang tak terlewatkan dalam perkembangan pertanian di China. Pada tanggal 11 November 2020, news.cgtn.com memberitakan penggunaan robot tak berawak pertama di Shanghai untuk mengelola pertanian. Penggunaan peralatan tersebut menjadi solusi ketika generasi petani mereka berkurang karena minat bertani yang semakin rendah.

Hingga tahun ke 2025 nanti, Shanghai berencana untuk membuat pertanian berteknologi canggih tersebut di 13 lokasi lain. Mesin tersebut memiliki kemampuan untuk menanam, memanen atau melakukan perawatan dengan lebih efektif dan efisien. Seorang pengendali mesin dapat berposisi dari tempat yang sangat jauh, sebab perlengkapan tersebut beroperasi dengan bantuan aplikasi seluler.

Berbagai negara maju di dunia, saat ini memang telah berupaya untuk menerapkan teknologi terkini dalam bidang pertanian. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) atau robot tanpa awak telah menjadi trend yang juga harus kita perhatikan. Meski di negeri kita, Indonesia hal tersebut belum umum, ada baiknya kita untuk tetap menggali informasi tersebut. Dengan terus belajar, bukan hal yang tidak mungkin kita pun dapat mengadopsi teknologi tersebut. Salam Tani.

Baca juga: 6 Negara Penghasil Beras Terbanyak Dunia

Tinggalkan Balasan