Beranda » Cara Menanam Jahe Yang Benar Agar Panen Melimpah

Cara Menanam Jahe Yang Benar Agar Panen Melimpah

Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman herba atau obat yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Semenjak zaman dahulu, masyarakat terutama di Asia telah mengenal jahe dan menggunakannya sebagai minuman, bumbu dan obat-obatan. Saat ini, jahe menjadi salah satu komoditi yang permintaan pasarnya cukup tinggi, baik untuk industri kecil maupun industri besar. Melihat potensi pasar dan keuntungan yang baik, sangat layak untuk mengembangkan tanaman ini secara insentif. Namun begitu, agar panen semakin maksimal, petani memerlukan metode cara menanam jahe yang benar.

Meskipun budidaya jahe terbilang mudah, namun jika tidak menggunakan cara yang benar juga akan menyebabkan kegagalan. Sebelum melakukan penanaman, petani harus memahami terlebih dahulu petunjuk teknis cara budidaya jahe. Dan pada kesempatan kali ini Tani Millenial akan membeberkan cara menanam jahe ini agar hasil panennya melimpah. Nah, silahkan untuk menyimak panduan ini hingga selesai.

Cara memilih lahan yang tepat untuk menanam jahe

Agar tumbuh dan berkembang dengan maksimal, tanaman jahe membutuhkan lingkungan yang tepat. Mulai dari jenis tanah, iklim, dan suhu lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan jahe. Dan berikut ini penjelasan syarat tumbuh tanaman jahe.

a. Syarat pokok lahan

    1. Calon lahan penanaman bukan merupakan bekas tanaman rimpang yang memiliki gejala bakteri yang menyebabkan penyakit. Tanaman rimpang tersebut diantaranya; kacang-kacangan, pisang-pisangan, atau tanaman inang yang menyebabkan penyakit layu.
    2. Petani hanya bisa melakukan penanaman pada lahan yang sama sebanyak 2 kali berturut-turut.
    3. Jika calon lahan pernah terkena penyakit layu yang parah, maka petani harus menggunakannya setelah 5 tahun.
    4. Jenis tanah yang paling cocok adalah; Latosol, Andosol, Assosiasi
      Regosol – Andosol.
    5. Tekstur lahan berupa tanah lempung atau lempung liat berpasir.

b. Kesesuaian lahan penanaman

    1. Ketinggian lahan penanaman dari permukaan laut harus sesuai dengan bibit yang ditanam, dengan acuan sebagai berikut:
      1. Jahe emprit : 200-1000 m dpl
      2. Jahe gajah : 400-800 m dpl
      3. Dan jahe merah : 200-600 m dpl
    2. Curah hujan 1500-4000 mm/tahun
    3. Suhu udara : 25 – 35 derajat celcius
    4. Tanaman jahe dapat tumbuh dengan nilai keasaman tanah 4,3 sampai 7,4. Namun agar hasilnya optimal, pH tanah 6,8 Р7,4. (baca: 4 Cara Mengukur pH Tanah Dengan Alat Sederhana).
    5. Tingkat naungan 0-30%

Cara memilih dan menggunakan bibit jahe yang baik

Kualitas bibit jahe akan sangat mempengaruhi hasil panen. Maka dari itu, pemilihan bibit yang unggul dan sesuai dengan lahan penanaman harus tepat. Berikut panduan pemilihan bibit jahe.

a. Memilih jenis jahe yang tepat

Berdasarkan bentuk, warna dan aroma rimpangnya, ada tiga jenis jahe, yakni:

    1. Jahe putih besar (jahe gajah). Jahe putih besar mempunyai rimpang besar berbuku,berwarna putih kekuningan dengan diameter 8-8,5 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6-11,3 cm dan 15-32 cm. Warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 0,8-2,8%
    2. Jahe putih kecil (jahe emprit). Jahe putih kecil (jahe emprit) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3-4 cm, tinggi dan panjang rimpang 6-11 cm dan 6-32 cm. Warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,5-3,5%.
    3. Jahe merah. Jahe merah mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4-4,5 cm, tinggi dan panjang rimpang 5-11 cm dan 12-13 cm. Warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,8-3,9%.

b. Memilih bibit jahe yang bermutu

Setelah memilih jenis bibit jahe yang tepat, selanjutnya adalah memilih bibit yang memenuhi standar mutu yang baik. Bibit tersebut harus bermutu secara fisik (bebas hama dan penyakit), genetik (asal usul) dan fisiologik (memiliki presentasi tumbuh yang tinggi). Berikut kriteria pemilihan bibit yang tepat:

    1. Bahan bibit langsung diambil dari kebun, dan usahakan untuk tidak mengambil bibit dari pasar. Dan jika terpaksa mengambil dari pasar, maka pilihlah bibit dengan asal usul yang jelas dan bisa dibuktikan kebenarannya.
    2. Pilihlah bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 bulan)
    3. Bahan bibit berasal dari tanaman yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

c. Cara pembibitan jahe

Agar tanaman jahe dapat tumbuh dengan seragam, maka usahakan untuk mengkecambahkan terlebih dahulu. Proses ini dapat menggunakan peti kayu atau bendengan. Berikut panduannya:

    1. Penyemaian menggunakan peti kayu.
      • Jemur bahan bibit terlebih dahulu namun tidak sampai kering,
      • Simpan bibit tersebut 1-1,5 bulan,
      • Jika sudah bertunas, maka potong rimpang dengan memiliki 3-5 tunas, kemudian jemur ulang 1/2 – 1 hari,
      • Masukan potongan rimpang tadi kedalam karung beranyam jarang. Kemudian celupkan kedalam larutan fungisida dan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) sekitar 1 menit, kemudian keringkan,
      • Lakukan penyemaian dengan peti kayu dengan cara: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.
    2. Penyemaian menggunakan bendengan
      • Buatlah rumah persemaian dengan ukuran 8 x 10 m (asumsi lahan 1 hektar dengan total bibit 1 ton jahe gajah),
      • Kemudian buatlah bedengan dari jerami dengan ketebalan 10 cm,
      • Susun rimpang diatas jerami, kemudian tutup dengan jerami dengan ketebalan 10 cm, kemudian susun kembali dengan rimpang, dan seterusnya. Buatlah susunan rimpang tersebut hingga 4 lapis,
      • Siram pemibitan sehari satu kali, sesekali semprot dengan menggunakan fungisida,
      • Setelah bertunas (kurang lebih umur 2 minggu), pilihlah bibit yang sudah bertunas, kemudian patahkan dengan memiliki 3-5 tunas.
    3. Penyiapan bibit. Sebelum ditanam bibit harus dibebaskan dari hama dan penyakit. Masukan bibit tersebut kedalam karung kemudian celupkan kedalam larutan fungisida selama kurang lebih 8 jam. Lalu jemur bibit tersebut 2-4 jam baru kemudian ditanam.

Cara menyiapkan lahan untuk menanam jahe

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, terlebih dahulu persyaratan lahan harus terpenuhi terlebih dahulu. Berikut langkah-langkah pengolahan lahan untuk menanam jahe:

Pengolahan lahan yang akan menjadi media tanam

    1. Pembukaan lahan
      • Tanah di bajak sedalam kurang lebih 30 cm, agar mendapatkan kondisi tanah yang gembur dan bersih dari tanaman pengganggu,
      • Diamkan selama kurang lebih 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap dan bibit penyakit mati,
      • Jika tanah masih belum gembur, maka lakukan kembali pembajakan 2-3 minggu sebelum penanaman,
      • Berikan pupuk kandang dengan dosis 1500-2500 kg/hektar.
    2. Membuat bendengan atau guludan. Jika lahan penanaman memiliki kondisi air tanah yang buruk, maka pembuatan bendengan sangat perlu untuk mencegah tergenangnya air. Berikut ketentuanya
      • Pada lahan dataran rendah, buatlah bendengan dengan ukuran 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.
      • Pada lahan miring buatlah guludan dengan jarak tanam 30 x 60 cm.
    3. Pengapuran. Jika kondisi keasaman tanah (pH) masih belum netral, maka lakukanlah pengapuran untuk menetralkan pH tanah. Berikut dosis pengapurnnya:
      • Kurang dari 5 = 10 ton/ha
      • 5 = 5,5 ton/ha
      • 6 = 0,8 ton/ha

Teknik penanaman

a. Pola tanam tanaman jahe

Budidaya jahe dapat menggunakan sistem monokultur (satu jenis tanaman) jika daerah penanaman tersebut mampu menghasilkan secara maksimal. Namun jika penggunaan pola monokultur tersebut dapat menimbulkan kerugian maka penanaman sebaiknya menggunakan pola tumpangsari. Adapun keuntungan pola tumpang sari adalah:

      1. Mengurangi kerugian karena harga yang tidak stabil,
      2. Menekan biaya kerja, seperti; biaya tenaga kerja pemeliharaan tanaman,
      3. Meningkatkan produktivitas lahan,
      4. Memperbaiki sifat fisik tanah dan mengawetkan tanah karena pertumbuhan gulma rendah.

b. Pembuatan lubang tanam

Untuk hasil yang lebih maksimal maka penggunaan bendengan sangat disarankan. Atau pada lahan miring menggunakan guludan.

    • Buatlah lubang tanam sedalam 25 – 30 cm dengan jarak tanam 30 x 60 cm.

c. Cara menanam tanaman jahe

Cara menanamnya adalah dengan melekatkan bibit rimpang kedalam lubang tanam atau alur yang telah ada secara rebah.

d. Periode tanam

Jahe akan lebih maksimal jika penanaman dilakukan pada awal musim hujan, sekitar bulan September dan Oktober. Sebab pada bibit muda sangat membutuhkan air yang cukup banyak untuk pertumbuhannya.

Cara melakukan perawatan tanaman jahe dengan tepat

pemupukan tanaman jahe

Sumber: 123rf.com

a. Pemupukan tanaman jahe

    1. Pemupukan organik/kompos
      • 1-2 minggu sebelum tanam terlebih sebagai pupuk dasar pada setiap lubang tanam dengan ukuran 0,5 kg/lubang tanam (1-2 minggu setelah pengapuran).
    1. Pemupukan susulan
Waktu PemupukanPupuk OrganikUreaTSPZKK2O
2-3 bulan2-3 kg/tanaman20 gram/tanaman10 gram/tanaman10 gram/tanaman
4-6 bulan2-3 kg/tanaman112 kg/ha
8-10 bulan2-3 kg/tanaman

Baca juga : Manfaat Pupuk Organik Untuk Pertanian

b. Penyulaman

Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya melakukan pemeriksaan untuk melihat rimpang yang mati. Jika ada yang mati, maka harus segera melakukan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain. Dan sebaiknya memilih bibit rimpang yang baik serta pemeliharaan yang benar

c. Penyiangan

Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.

d. Pembubunan

Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka sangat perlu untuk melakukan penggemburan tanah. Selain itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda, cukup mencangkul tanah tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat lebih dalam dan lebih lebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air.

e. Pengairan dan penyiraman tanaman jahe

Tanaman Jahe tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam, usahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September

f. Penyemprotan pestisida

Penggunaan pestisida sebaiknya mulai dari saat penyimpanan bibit dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya  dengan mencampur bersama pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan jahe.

Cara pemanenan dan perlakuan jahe pasca panen

Umur pemanenan jahe bisa berbeda-beda tergantung pada tujuan pemanenan, dengan ketentuan:

Pemanenan jahe

Tujuan panenUmur panenCiri-ciriCara panen
Bumbu masakanKurang lebih 4 bulanJahe masih mudaPatahkan sebagian rimpang dan biarkan sisanya sampai tua
Untuk dipasarkan10-12 bulanWarna daun menguning dan batang mengeringBongkar seluruh tanaman dengan garpu atau cangkul

Waktu panen sebaiknya sebelum datangnya musim hujan, yaitu antara bulan Juni sampai Agustus. Biasanya kondisi tanah sedang kering dan keras, apabila belum memungkinkan pemanenan, maka panen sebaiknya pada musim kemarau berikutnya. Karena pemanenan pada musim hujan akan merusak kualitas rimpang karena kadar air yang tinggi.

Itulah sederet teknis untuk budidaya tanaman jahe. Semoga artikel cara menanam jahe ini mampu menjadi panduan bagi para petani sekalian. Salam Tani.

Tinggalkan Balasan