Beranda » 4 Cara Mengukur pH Tanah Dengan Alat Sederhana

4 Cara Mengukur pH Tanah Dengan Alat Sederhana

Sebagai seorang petani, mengetahui cara mengukur pH tanah merupakan hal yang sangat penting. Sebab, dengan mengetahui ukuran pH tanah akan sangat membantu dalam proses budidaya selanjutnya. Karena, pada umumnya setiap tanaman hanya akan mampu menyerap nutrisi dalam kisaran ukuran pH tertentu. Meskipun anda melakukan pemupukan dengan baik, jika ukuran tersebut tidak sesuai maka hasilnya akan sia-sia.

Kemudian, pH (potensi Hidrogen) sendiri merupakan suatu ukuran untuk menentukan nilai keasaman atau kebasaan tanah. Secara teknisnya, ukuran pH merupakan ukuran berapa banyak ion hidrogen yang terdapat dalam tanah. Sedangkan untuk nilai ukuran yang digunakan mulai dari 1 hingga 14. Lalu, tanah yang memiliki nilai pH dibawah angka 7 disebut dengan tanah asam. Dan tanah yang memiliki ukuran pH lebih dari 7 disebut dengan tanah basa. Sedangkan pada umumnya, tanaman akan tumbuh dengan baik pada kisaran 6,5 – 7. Meskipun beberapa tanaman mampu hidup dengan baik dengan kondisi pH yang lebih asam maupun lebih basa.

Sedangkan untuk mengukur pH ini, anda dapat melakukannya dengan beberapa cara. Hal tersebut tergantung kepada kemampuan atau kebutuhan kita. Kemudian dengan cara apa saja cara mengukur pH tanah tersebut? Kali ini Tani Millenial akan menjelaskan pengukuran tersebut dalam ulasan berikut ini:

1. Menggunakan bahan dapur, cuka dan soda kue

cara mengukur ph tanah

Sumber: 123rf.com

Ketika kita menambahkan larutan asam kepada sesuatu yang basa, maka larutan asam tersebut akan bereaksi. Maka dari itu, menggunakan cuka (asam) dan soda (basa) merupakan langkah yang tepat. Namun begitu, dengan menggunakan cara ini kita hanya akan mendapatkan hasil yang umum bahwa tanah tersebut bersifat asam atau basa. Dan cara ini lebih cocok digunakan pada lahan yang masih dalam kondisi sehat.

a. Gali contoh tanah

Ambil tanah secukupnya. Kemudian bersihkan tanah tersebut dari kotoran seperti plastik, ranting, batu, dan sebagainya. Tempakan tanah tersebut pada wadah, utamanya menggunakan mangkuk kaca bening. Dan jangan lupa untuk memecahkan gumpalan tanah tersebut agar menjadi lebih halus.

b. Campurkan tanah dengan air

Langkah selanjutnya adalah mencampurkan tanah tadi dengan setengah gelas air (50cc). Kemudian aduk merata hingga menjadi lumpur.

c. Tambahkan 1/2 gelas cuka dan aduk.

Setelah anda menambahkan cuka, kemudian lihat seperti apa reaksinya. Jika campuran tadi berbusa atau bergelembung, maka itu tandanya tanah anda bersifat basa.

d. Jika tidak terjadi gelembung maka ulangi prosesnya.

Jika tidak ada reaksi pada tanah tadi atau tidak keluar busa, maka ulangi langkah tadi dengan menggunakan contoh tanah yang baru.

e. Kemudian lakukan pengukuran dengan menggunakan 1/ 2 cangkir soda dan aduk sedikit

Dengan cara yang sama, lakukanlah pengujian dengan cairan soda. Jika tanah mengeluarkan busa atau gelembung, artinya tanah tersebut bersifat asam.

2. Mengukur pH dengan kertas lakmus

Kertas lakmus merupakan kertas yang pewarnaanya menggunakan pewarna alami, yakni lumut (terutama Roccella tinctoria). Dan kertas ini akan merespon terhadap sifat asam dan basa dengan berubah warnanya.

a. Mengambil contoh tanah

Ambil contoh tanah dari 5 hingga 10 tempat berbeda. Kemudian bersihkan tanah tersebut dari bebatuan, ranting atau benda-benda lainnya. Kemudian masukan tanah tersebut kedalam ember atau wadah lainnya.

b. Mencampurkan dengan air suling atau mineral

Campurkan tanah tadi dengan menggunakan air suling atau air destilasi (bisa menggunakan Aquades) . Usahakan air volume air lebih banyak dari pada volume tanah. Kemudian aduk tanah tersebut hingga merata dan diamkan sampai air dan tanahnya terpisah.

c. Menggunakan kertas lakmus

Pilihlah satu atau dua jenis warna kertas lakmus. Kemudian celupkan kertas lakmus tersebut kedalam adonan tadi. Namun jangan sampai terkena tanahnya. Lalu tahan kertas tersebut 1 hingga 2 menit. Setelah diangkat, amati perubahan warna pada kertas tersebut. Jika berubah menjadi warna merah, maka tanah tersebut bersifat asam. Namun jika menjadi biru, tanah anda bersifat lebih basa. Dan untuk tanah yang netral, warna akan berubah menjadi ungu.

3. Memanfaatkan rimpang kunyit

kunyit

Sumber : solopos.com

Kunyit menjadi alternatif lain yang dapat digunakan untuk mengukur pH tanah. Bahan ini tentunya akan sangat mudah dan murah. Meski penggunaan kunyit ini hasilnya hanya untuk menentukan tanah tersebut asam atau basa.

a. Ambil contoh tanah

Ambilah contoh tanah 5 sampai 10 tempat berbeda. Kemudian bersihkan tanah tersebut dari bebatuan, ranting atau benda lainnya. Lalu masukan tanah tadi kedalam wadah.

b. Campurkan dengan air secukupnya

Campurkan seluruh tanah tadi dengan air kemudian aduk merata.

c. Gunakan kunyit untuk mengukur

Ambil rimpang kunyit sebesar ibu jari. Kemudian masukan satu potong kunyit tersebut kedalam adonan tadi. Biarkan selama 30 menit. Kemudian bandingkan warna kunyit yang dicelupkan ke dalam adonan dengan yang tidak dicelupkan. Jika warna kunyit menjadi lebih pudar maka tanah tersebut bersifat asam. Namun, jika warnanya lebih cerah maka tanah tersebut bersifat basa. Dan jika tidak mengalami perubahan, maka tanah tersebut bersifat netral.

4. Memanfaatkan cairan kubis merah

Kubis merah merupakan bahan lain yang dapat kita gunakan sebagai pengukur pH tanah. Kubis merah ini mengandung senyawa pewarna, antosianin, yang dapat berubah warna ketika berada di lingkungan asam maupun basa.

a. Menyiapkan cairan dari kubis merah

Ambil 4-6 lembar kubis merah, kemudian potong kecil-kecil. Lalu didihkan selama 10 menit potongan kubis tadi dengan menggunakan 2 gelas air destilasi atau air suling (alternatif air aquades). Kemudian diamkan selama 30 menit dan saring cairannya. Air saringan ini akan berwarna biru atau ungu yang artinya memiliki pH netral.

b. Mengambil contoh tanah

Ambil contoh tanah dari beberapa tempat berbeda dan kemudian bersihkan tanah tersebut dari bebatuan dan kotoran yang lainnya. Campurkan tanah tadi menjadi satu.

c. Cara mengukur dan mengamati

Ambil 2 sendok tanah campuran tadi dan masukan kedalam cairan kubis yang telah disaring. Aduk dan tunggu hingga 20-30 menit. Amati perubahan warnanya. Jika berwarna merah/merah muda, artinya tanah tersebut bersifat asam. Namun jika berwarna biru laut, kuning atau hijau, artinya tanah tersebut bersifat basa. Sedangkan untuk tanah netral, air akan tetap berwarna biru atau keunguan.

Sebagai catatan: usahakan untuk tidak menambahkan tanah yang terlalu banyak kedalam air saringan kubis tadi. Sebab dengan tanah yang terlalu banyak akan membuat warna air menjadi hitam atau keabu-abuan. Jika hal itu terjadi, maka pengukuran harus diulang dari awal.

Itulah penjelasan mengenai bahan-bahan sederhana yang banyak kita temui disekitar kita untuk mengukur pH tanah. Selain dengan bahan-bahan tersebut kita dapat menggunakan indikator tanaman liar. Tanaman liar tersebut di Jawa dinamakan Senggani, Sikaduduak (Minang), Senduduk (Melayu) dan Ndusuk (NTT). Tanaman ini memiliki nama latin Melastona malabatricum. Beberapa pernyataan mengatakan dengan banyak tumbuhnya tanaman ini maka tanah tersebut bersifat netral. Namun kemudian beberapa pernyataan lain harus mengetes perubahan warna buah ini. Namun, dalam beberapa penelitian, perubahan warna pada buah ini memang mampu menjadi indikator pengukuran pH tanah.

Selain dengan cara-cara diatas pengukuran pH dapat dilakukan dengan menggunakan alat khusus yang sering disebut pH Meter. Dengan alat ini tentu saja hasil ukuran akan lebih akurat dengan nilai yang cukup jelas. Selain itu, anda juga bisa melakukan pH tanah melalui laboratorium tanah. Semoga ulasan ini bermanfaat. Salam Tani.

Baca juga: Pupuk Dolomit: Manfaatnya Untuk Tanah Dan Tanaman

Tinggalkan Balasan