Beranda » 3 Alasan Penanggalan Jawa Menjadi Penanda Pertanian

3 Alasan Penanggalan Jawa Menjadi Penanda Pertanian

Para petani jawa sering menggunakan penanggalan jawa menjadi penanda pertanian. Dan hal tersebut terjadi secara turun-temurun dari generasi yang satu kepada generasi yang lainnya. Meski pada saat ini, tidak semua penanda tersebut akurat seperti zaman dahulu. Salah satu yang menjadi alasan adalah adanya perubahan iklim yang akhir-akhir ini terjadi.

Orang jawa seringkali mengandalkan ilmu titen(pengamatan). Yang sepertinya juga menjadi dasar dari adanya penanggalan pranoto mongso tersebut. Sebab, dalam penanggalan tersebut menyebutkan mengenai berbagai kejadian alam yang merupakan kebiasaan dari perilaku hewan maupun lingkungan.

Dan sebenarnya, bukan penanggalan jawa yang menjadi penanda utamanya, namun pranoto mongso yang ada dalam penanggalan jawa tersebut. Meski karena kebiasaan, kebanyakan orang menganggap jika penanggalan jawa menjadi penanda pertanian. Itu merupakan salah satu “salah kaprah” yang sering terjadi.

Meski bergitu, sebenarnya apa alasan para petani menggunakan kalender jawa sebagai penanda pertanian? Nah, pada ulasan dibawah ini, Tani Millenial akan mencoba menguraikan alasan apa saja yang menyebabkan hal itu terjadi. Silahkan disimak ulasannya.

1. Pranoto mongso telah menjadi bagian kepercayaan masyarakat jawa.

Masyarakat jawa merupakan masyarakat yang sangat kental dengan arus kepercayaan. Dan mereka sangat patung terhadap seorang Raja. Apapun yang kemudian dikatakan oleh raja, mereka tidak akan berani untuk membantahnya, mereka akan selalu mematuhinya.

Sedangkan pranoto mongso, merupakan kalender yang di keluarkan oleh Kerajaan Mataram, saat ini Yogyakarta. Pada mulanya penanggalan jawa tersebut menggunakan sistem penanggalan saka hindu yang berdasarkan pergerakan matahari. Namun kemudian pada tahun 1663 M, Raja Mataram Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengganti konsep dasar sistem penanggalan matahari menjadi sistem bulan seperti hijriah. Namun dengan pergantian sistem tersebut menjadikan para petani kerepotan dalam menentukan patokan bertani. Kemudian pada tahun 1855 M, Paduka Mangkunegara IV memperbarui bulan-bulan musim sebagai pranoto mongso.

2. Adanya bukti yang telah mereka temukan.

penanggalan jawa pertanda pertanian

Sumber: dokpri

Meski pada dasarnya orang jawa tunduk kepada pemimpinnya, mereka tetap saja akan mencari pembuktian. Dan pada persoalan pranoto mongso ini mereka pun melakukan hal yang serupa. Kemudian mereka melakukan pengamatan dari tahun ke tahun mengenai kebenaran pranoto mongso tersebut.

Saat ini, dengan adanya perubahan iklim, para petani yang masih menggunakan patokan pranoto mongso tersebut sering membedakan kondisi dengan zaman dahulu. Mereka sering bercerita pada musim-musim tertentu akan menanam tanaman tertentu. Namun dengan kondisi seperti saat ini, hal tersebut tidak lagi bisa dilakukan. Andai saja petani tetap melakukannya, maka kebanyakan tetap akan gagal panen.

3. Tidak adanya panduan pertanian lain yang lebih baik dari pranoto mongso.

penanggalan jawa penanda pertanian

Sumber: dokpri

Meski melalui instansi terkait, pemerintah telah membuat panduan dalam bertani namun hal tersebut masih belum mencukupi kebutuhan petani. Panduan soal kapan waktu penanaman yang tepat atau kapan hama tertentu akan muncul belum ada yang sebaik pranoto mongso. Hal tersebut membuat para petani seperti kehilangan patokan baku dalam melakukan budidaya pertanian. Selain itu, dengan adanya perubahan iklim saat ini memang sangat sulit untuk memprediksi waktu yang tepat untuk bertani.

Nah, itulah tiga alasan yang menjadikan pranoto mongso dalam kalender jawa tersebut menjadi patokan oleh para petani. Namun dengan kondisi alam yang seperti saat ini patokan tersebut menjadi sedikit bergeser. Tentunya menjadi harapan kita semua agar kedepan ada patokan yang lebih sesuai dengan kondisi alam saat ini. Salam Tani.

Baca Juga : Pranoto Mongso: Penangalan Jawa Untuk Pertanian

Tinggalkan Balasan